Tuesday, November 28, 2017

DUNIA ADALAH TEMPAT UJIAN DAN COBAAN


Kehidupan di dunia pada dasarnya hanya sebagai tempat cobaan yang dihiasi dengan warna-warni kehidupan yang dipenuhi dengan derita dan cobaan. Dunia ini juga tempat tinggal iblis atas kesesatannya begitu pula dengan pengikut iblis, yaitu manusia yang mengikuti jejak langkahnya yang berhasil dikelabuhinya. Tipu daya iblis terus menghantui setiap langkah manusia. Bagi yang lebih mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hasutan dan tipu daya setan tidak akan membuatnya terpesona dan lalai dari ketaatannya kapada Allah. Namun bagi yang tetarik mengikuti ajakan iblis, maka Allah juga akan melebarkan jalan manusia itu untuk menerima ajakan iblis dan bahkan menambah kenikmatan bagi pengikut iblis agar terus membuntutinya, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur’an :
أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا ۙ٨٣

فَلَا تَعْجَلْ عَلَيْهِمْۗ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا ۗ٨٤

”Tidakkah kami lihat, bahwasanya kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasut mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh? Maka janganlah kamu tergesah-gesah meminta siksa atas mereka, karena sesungguhnya kami hanya menghitung hari datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.”(QS. Maryam: 83-84)

Jika yang dicintainya adalah Allah semata, maka hidupnya akan selalu bersama Allah, dan Allah akan menghindarkannya dari segala kebrukan, kejelekan, dan akan terbuka dihadapanya semua pintu kebaikan dan kebahagiaan. Jika yang diikutinya setan, maka Allah akan membiarkannya terlena dipangkuan setan, ia akan terus bergelimang dengan dosa, kehidupannya penuh dengan derita tanpa akhir, dosa yang terus menebal, dan tidak tersisa sedikitpun darinya kecuali dosa dan maksiat.

Untuk menyempurnakan segala ujian dan cobaan, maka adanya tipu daya dan godaan setan akan terwujud nyata dikehidupan dunia ini sebagai tempat menempa dan menguji hamba-hamba Allah atas kesempurnaan keimanan dan ketulusan cinta mereka. Bentuk cinta ini tidak hanya bisa diwujudkan dalam wacana belaka, namun mesti diaplikasikan dalam kehidupan nyata seperti misalnya anda berbicara, “Aku akan melakukannya nanti” namun ketika tiba waktu yang ditentukan itu, hal tersebut tidak pernah diperbuat sama sekali. Hal ini seperti seseorang yang mengemban sebuah amanah (kepercayaan) yang diberikan Allah kepadanya untuk selalu taat kepada-Nya dan ia berjanji untuk memegang erat kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya. Namun apa daya ketika dunia mengambil amanah itu dengan manisnya tipuan setan, maka terlenalah ia dengan mengikuti langkah setan dan akhirnya terlupa terhadap janji untuk memegang amanah tersebut dan keluar dari ketentuan yang digariskan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Telah dijelaskan diatas bahwa setan meratap meminta agar Allah menangguhkan pembalasan bagi dirinya hingga hari kiamat nanti. Meskipun Allah menangguhkan siksa terhadap setan itu, namun demikian tidak berarti Allah mengabulkan permintaan setan iyu. Namun maksud penangguhan itu dengan ditempatkannya setan didunia -yang menjadi tempat cobaan dan ujian bagi manusia- merupakan kesempurnaan iradah (kehendak) Allah dalam kehidupan manusia. Dengan demikian penangguhan siksa setan itu bukan semata-mata karena dosa setan, namun hanya untuk mewujudkan eksistensi iradah Allah didunia untuk menguji manusia hingga akhir kelak nanti. Dengan menangguhkan siksaan ini hingga akhir pembalasa, makan setan mengambil kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk membujuk, merayu, menipu dan yang sejenisnya, yang merupakan seperangkat tipu daya setan yang ditunjukkan kepada keturunan Adam, seperti yang digambarkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an :

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

”Iblis menjawab : Karena Engkau telah menghukum saya dengan kesesatan, saya akan (menghalang-halang) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS. Al-A’raf: 16)

Lantas bagaimana upaya setan untuk menggoda manusia? Dengan cara apa setan menghasut manusia? Pertayaan ini akan terjawab manakala dibaca salah satu ayat Al-Qur’an yang menceritakan perkataan setan:

”Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.”(QS. Shaad: 82)

Dari ayat tersebut dapat diketahui jawaban singkat upaya setan untuk menggoda manusia, yaitu dengan ‘kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata’. Artinya ketika ditanya dengan cara apa ia menggoda manusia, sang iblis seakan menjawab:” Ya Allah, jika Engkau menghendaki orang itu menjadi seorang hamba yang taat kepada-Mu, maka aku tidak mampu sedikitpun untuk menggodanya. Dan Engkau maha mulia dari semua makhluk yang diciptakan oleh-Mu. Tidak akan pernah sedikitpun kekuasaan-Mu bertambah karena ketaatan hamba-Mu itu, tidak pula kekuasaan-Muberkurang karena dosa yang diperbuatnya. Namu dengan kemuliaan-Mu itu, aku akan menggoda hamba-Mu itu dengan memberi keindahan dan kenikmatan semua jalan maksiat, dan aku akan menghalangi ketika mereka berjalan dijalan yang benar.”

Dari ungkapan setan itu dapat menggambarkan bahwa setan tidak perlu menghalangi seseorang yang menempuh jalan kesesatan dan setan tidak perlu untuk duduk menghalangi orang-orang yang lalu lalang ketempat-tempat yang menyediakan minuman keras, karena orang-orang yang berada ditempat tersebut dengan sendirinya sudah menjadi bagian dari para kawanan pengikut setan itu sendiri.

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG

Jangan Lupa Subscribe My Channel You Tube
Naufal Azhari

Monday, November 27, 2017

HAKIKAT IBLIS


Siapa itu iblis? Iblis berasal dari mana? Iblis berasal dari kalangan jin bukan malaikat. Karena pada dasarnya malaikat tidak pernah membangkang terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan jin itu diberikan beberapa pilihan hidup oleh Allah, seperti juga halnya yang diberikan kepada manusia. Sebagai ulama membagi makhluk menjadi 3 bagian yaitu setan, jin, dan manusia. Tapi saya tidak sependapat dengan ini,menurut saya pembagian hanya ada 2 saja yaitu manusia dan jin, seperti yang diterangkan dalam suatu ayat yang berbunyi:

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَ الثَّقَلَانِ

”Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin.”(QS. Ar-Rahman: 31)
Adapun ayat lain menyatakan pula:

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖفَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

“Dan sesungguhnya diantara kami ada orang-orang yang ta’at dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang ta’at, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam. (QS. A-jin 14-15)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa di kawanan jin sendiri ada jin yang taat dan ada pula yang fasik, dan yang fasik inilah yang disebut setan. Dengan demikian iblis termasuk dari golongan jin dan ia dianggap berdosa karena menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam (perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala), seperti yang dijelaskan oleh suatu ayat yang berbunyi:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلا

”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam![11]” Maka mereka pun sujud kecuali iblis, Kecuali iblis, (dan) dia termasuk golongan jin, dan ia mendurhakai perintah Tuhannya.”(QS. Al-Khafi: 50)

Pembangkangan jin terhadap Allah karena menolak sujud kepada Nabi Adam merupakan awal dari dosa yang dilakukan iblis. Muncul pertanyaan apakah pembangkangan iblis itu karena iblis tidak sadar dengan apa yang dilakukannya dan kemudian timbul penyesalan, atau karena kesombongannya karena merasa lebih baik? Dari penjelasan beberapa ayat Al-Qur’an dijelaskan bahwa pembangkangan iblis tersebut disebabkan oleh kesombongannya karena diciptakan dari unsur yang lebih baik dari pada manusia

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG

Jangan Lupa Subscribe My Channel You Tube
Naufal Azhari

Saturday, November 25, 2017

TEMPAT MASUKNYA SETAN


Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangkan dengan jelas bahwa hasutan, tipu daya, bujukan setan itu nyata dan wujud dalam keseharian manusia. Keraguan, kebimbangan, dan lain sebagainya merupakan jalan yang ditempuh setan untuk membinasakan manusia sehingga terjebak dalam lumpur dosa dan nestapa tanpa akhir.

Namun apa bedanya diantara beberapa cara yang ditempuh setan untuk menjerumuskan manusia? Cara apa yang digunakan setan untuk menipu manusia? Bagaimana setan menarik manusia hingga jatuh ke dalam dosa? Bagaimana setan menakut-nakuti para hamba Allah? Bagaimana mungkin manusia yang telah jatuh dalam kesesatan kemudian setan pergi meninggalkannya?

Sebelum kita mulai menjawab pertanyaan diatas hendaknya perlu diketahui lebih dulu, bahwa keraguan itu adakala dari setan dan dari sifat manusia itu sendiri yang pada dasarnya kedua bentuk itu akan menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa jiwa manusia terbagi tiga macam. Ada yang disebut jiwa baik dan sehat(thayibah), jiwa tawwamah dan amarah bis-su’i.

Jiwa thayibah ini akan selalu merangsang manusia untuk selalu berbuat baik dan benar, sedangkan sifat lawwamah cenderung mengajak manusia melakukan dosa dan keburukan, namun sifat itu tidak konsisten karena sekali waktu ada rangsangan untuk berbuat baik, namun dilain waktu mengajak pula dalam keburukan dan ajakan ke arah ini lebih banyak rangsangannya. Sedangkan jiwa amarah bis-su’i hanya terus merangsang pada keburukan tanpa merasakan sedikitpun penyesalan atas perbuatannya itu, sehingga tujuan hidupnya hanya keburukan, dan keburukan itu menjadi kebiasaan hidupnya.

sifat ragu-ragu pun dibagi menjadi 2 macam yaitu keraguan (was-was) yang berasal dari hasutan setan kepada manusia, dan keraguan yang timbul dari diri manusia sendiri. Lalu bagaimana membedakannya?

Setan itu akan selalu mengajak manusia dalam kesesatan selamanya dan tidak penting bagi setan bentuk apa dosa itu, yang terpenting baginya manusia harus melakukan dosa itu. Ketika setan menggoda manusia dengan harta yang tidak halal, tidak semerta-merta setan berhenti menghasut ketika orang berhasil mencuri, merampok, atau merampas harta, tapi terus membujuk dengan membayangkan betapa nikmatnya berzina dengan hasil curiannya itu. Setelah zina dilakukan mulai membayangkan lagi bahwa hal itu belum seberapa jika belum minum minuman keras, narkoba, dan lain sebagainya. Disaat itu pula setan menutup jalan menuju ketaatan dari orang itu, dari keenggananya untuk beribadah atau ketaatan lainnya. Ataupun jika hendak melakukan ketaatan dilakukannya dengan berbagai cara yang menarik perhatian orang bahwa ia sedang berbuat baik.

Perlu kita ketahui bahwa cara-cara setan ketika menghasut manusia tidak dilakukan dengan cara paksaan atau kekerasan, namun dilakukan dengan cara yang halus, penuh perhitungan, dan secara teratur. Seperti ketika datang adzan misalnya, setan menggoda seseorang yang tengah menyaksikan sebuah sinetron atau film, setan membisikkan bahwa waktu shalat itu panjang dan lakukan saja setelah sinetron atau film itu selesai. Namun ketika sinetron itu selesai tiba-tiba teringat pekerjaan yang harus dikerjakan segera kemudian ia menelpon seseorang. Setelah itu tiba-tiba ia merasa lapar dan akhirnya makan dulu atau tiba-tiba ada keperluan mendadak dan dia harus keluar rumah untuk menyelesaikan keperluannya itu, dan seterusnya, hingga ia lupa mengerjakan shalat itu. Begitu pula bagi seorang pengusaha, manager, pelayan toko atau lainnya, hasutan setan datang ketika tiba-tiba datang pelanggan atau konsumen yang datang dengan serta-merta shalat itu ditangguhkn dulu karena takut hilang kesempatan mendapatkan uang sehingga hilang waktu shalat dan perbuatan ini dijustifikasi pula bahwa pekerjaan itu adalah bagian dari ibadah pula. Begitu pula hasutan ini ditujukan kepada orang yang hendak beribadah, seorang yang berwudhu misalnya ragu apakah ia telah berwudhu sebagaimana mestinya hingga mengulang-ngulang wudhunya, atau dalam shalat yang tiba-tiba lupa berapa jumlah rakaat yang telah dilakukannya, dan lain sebagainya.

Dengan demikian setan tidak peduli dosa apa yang akan dieperbuat manusia, yang penting baginya adalah bagaimana manusia jatuh dalam dosa.

Sedangkan jika keraguan itu datang dari manusia itu sendiri, maka ia hanya tertarik melakukan satu dosa saja dan tidak mengulanginya di kesempatan lainnya, dan tidak tertarik melakukan dosa lainnya.

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG

Jangan Lupa Subscribe My Channel You Tube
Naufal Azhari

Wednesday, November 1, 2017

MAKNA TERDALAM DARI SABAR


~Direndahkan tidak mungkin jadi *SAMPAH,*

~Disanjung tidak mungkin jadi *REMBULAN.*

Maka jangan risaukan *OMONGAN* orang, sebab setiap orang membacamu dengan pemahaman dan pengalaman yang berbeda.

Teruslah melangkah selama engkau di jalan yang *BENAR,* meski terkadang *KEBAIKAN TIDAK SELALU DIHARGAI.* Tidak usah repot-repot menjelaskan tentang dirimu, sebab yang menyukaimu *TIDAK BUTUH* itu dan yang membencimu *TIDAK PERCAYA* itu.

*HIDUP* itu bukan tentang siapa yang *TERBAIK,* tapi tentang SIAPA yang mau *BERBUAT BAIK.*
Jika didzalimi orang *JANGAN BERPIKIR* untuk *MEMBALAS DENDAM,* tapi berpikirlah cara *MEMBALAS dengan KEBAIKAN.*

Jangan mengeluh, teruslah *BERDOA dan BERSYUKUR.* Sibukkan diri dalam *KEBAIKAN* hingga *KEBURUKAN LELAH MENGIKUTIMU.*

Orang *TAK BERIMAN* berkata, *SABAR itu ADA BATASNYA.* Tapi bagi orang yang *BERIMAN, SABAR itu TANPA BATAS.*

Jadi, sabar itu menerima dahulu kehadiran tamu yang bernama *"MASALAH"* sebelum kita melepaskannya. Sebab kita tokh tak akan mudah melepas sesuatu yang belum kita terima Masalah itu akan mudah berpamitan bila sudah kita jamu dengan *BERSYUKUR.*

Sebaiknya hindari mengatakan *"BERSABARLAH SEGALANYA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA "* Sebab dengan pernyataan semacam ini membuat kita " *MENUNGGU "* keindahan itu hadir. Dan apapun yang ditunggu itu bisa *TERASA LAMA dan MELELAHKAN* Jadi, *SABAR* itu bukan seberapa lama kita *MENUNGGU,* *SEBERAPA BERAT KITA DITEKAN, SEBERAPA PAHIT KITA DI UJI.*
Tapi seberapa hebat tekanan itu mampu mengasah kita meng create gagasan dan ketrampilan diri untuk lepas dari tekanan tersebut.
Dan disaat itu pula kita berhasil menemukan " *SOLVE "* laksana cahaya di ujung terowongan yang gelap...

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG

Jangan Lupa Subscribe My Channel
Naufal Azhari

Tuesday, October 31, 2017

HAMIL DILUAR NIKAH- Bagi kaum hawa wajib baca


Kita semua pasti pernah melihat seorang wanita yang hamil diluar nikah, jika pun tidak pernah melihat pastinya kita pernah mendengar ceritanya di masyarakat. Ada banyak sisi dari wanita yang hamil di luar nikah, antara lain :

1. Wanita yang berhubungan badan diluar nikah akan gampang sekali hamil, hanya sekali berhubungan badan bisa langsung hamil.
✅Hal ini berbanding terbalik dengan wanita menikah yang sangat susah untuk hamil, bisa berbulan bulan bahkan bertahun tahun.

2. Wanita yang hamil diluar nikah bisa menyembunyikan perutnya yang membesar sehingga kelihatan biasa saja.
✅Hal ini bertolak belakang dengan wanita menikah yang akan membesar perutnya saat hamil.

3. Wanita yang hamil di luar nikah tidak pernah merasa kesulitan, dia beraktivitas normal layaknya wanita yang tidak hamil.
✅Hal ini bertolak belakang dengan wanita menikah yang acap kali meringis kesakitan. Wanita menikah yang hamil akan kewalahan beraktivitas.

4. Wanita hamil di luar nikah tidak akan merasa sakit saat melahirkan, dimana pun dia bisa melahirkan tanpa bantuan bidan.
Dia bisa melahirkan di kebun, di kamar, di toilet, dan di tempat lain hanya seorang diri.
✅Hal ini bertolak belakang dengan wanita menikah yang akan merasa sakit saat melahirkan dan harus dibantu orang lain.

5.Hampir semua Wanita hamil diluar nikah akan meninggalkan anaknya selesai dilahirkan
✅Sementara wanita menikah akan menjaga anaknya.

Kadang memang hal ini luput dari perhatian sebab perhatian masyarakt sosial hanya terfokus pada satu kata "siapa yang menghamili".

Lalu mengapa wanita hamil diluar nikah sangat lihai berkamuflase ?
Mengapa perutnya bisa kecil ?
Mengapa dia masih normal beraktivitas ?
Mengapa dia enak saja melahirkan tanpa merasa sakit ?
Ternyata jawabannya adalah karena wanita yang hamil di luar nikah telah dicabut nikmat kewanitaannya oleh yang Maha Kuasa.

Yang Maha Kuasa sudah menggariskan nikmat yang luar biasa kepada wanita yaitu AKAN BERSUSAH PAYAH SAAT HAMIL DAN AKAN KESAKITAN SAAT MELAHIRKAN dalam sebuah ikatan perkawinan yang sah.

Tuhan sudah mencabut RASA SAKIT dari kodrat wanita yang hamil diluar nikah dan mengantinya dengan rasa KETAKUTAN. Rasa takut ini lah yang membuat wanita hamil di luar nikah tidak merasakan sakit lagi. DIA TAKUT, DIA MERASA BERSALAH sehingga dia menjadi mati rasa untuk merasakan sakit.

Berbeda dengan wanita yang hamil dalam ikatan pernikahan, Dia tidak akan takut sebab proses berhubungan badan yang dia lakukan sudah sesuai dengan perintah NYA. Wanita menikah tidak merasa takut makanya dia MERASA SAKIT.

Penjelasan mengenai wanita hamil diluar nikah yang tidak merasa sakit ini bisa kita tarik dalam praktek contoh lainnya, misalnya :
"saat Anda sedang mencuri dan ketahuan, maka Anda akan berlari sekuat tenaga. apa pun akan Anda gilas, setinggi apapun tembok akan Anda lompati. Anda terus berlari tanpa merasa lelah dan sakit meskipun kaki Anda terkena pecahan kaca. Kenapa Anda tidak merasa sakit padahal kaki Anda terkena pecahan kaca ? Jawabannya karena Anda TAKUT.

Jadi untuk para wanita, jangan mau menderita sendiri mana kala lelaki mu pergi dan bersenang senang dengan kegemarannya berganti wanita.

Laki laki itu BUAYA yang Buas, Tapi Buaya yang buas itu bisa berubah menjadi BIAWAK jika kamu bisa menaklukkannya. Selama berpacaran, jangan mau ditaklukkan laki laki. biar lah Anda takluk saat dia sudah menjadi suami mu.

Semoga bermanfaat ya...

Lelaki miskin tapi bertanggung jawab masih lebih baik dari pada lelaki Kaya dan Tampan tapi seperti AYAM.
Lohh... kok Ayam ? Ya.... Ayam Jantan tidak pernah setia pada satu betina
. .
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG

Jangan Kupa Subscribe My Channel Youtube
Naufal Azhari

Friday, October 27, 2017

AMAL YANG DITERIMA


لاَ عمَلَ اَرْجٰى للِْقبُولِ من عملٍ يَغيْبُ عَنكَ شُهُودُهُ وَيُحتَقَرُّ عَنْكَ وُجوُدُهُ

'Tidak ada amal yang dapat diharapkan diterima oleh Allah (ciri2nya) yaitu amal yang diabaikan (tidak dilihat) dan diremehkan."

Maqalah diatas menjelaskan bahwa mencapai kualitas amal yg ikhlas itu sangat sulit, karena diperlukan kejernihan hati dan niat yg tulus. Seringkali org beramal masih menyimpan lintasan tujuan selain Allah, bahkan semangat dalam beramal masih didasari oleh tujuan2 yg belum karena Allah, seperti semangat shalat berjamaah di masjid hanya sekedar tidak enak sama tetangga, atau terlintas ingin mendapatkan pujian dari org lain, apalagi niat jamaahnya di masjid ada tujuan politik. Maka amal yg demikian sangat sulit mencapai keikhlasan. Namun demikian, berjamaah di masjid memiliki keutamaan yg istimewa harus tetap dilakukan, yang paling penting yaitu menghilangkan virus2 yg menyebabkan rusaknya amal.

Ikhlas memang mudah sekali diucapkan scr lisan tapi sulit diperolehnya, seperti berkata saya ikhlas beramal ini karena Allah. Ucapan yg demikian bukan berarti menunjukkan keikhlasan yg sesungguhnya, krn ikhlas bukan ucapan melainkan gerakan hati yg tulus tanpa ada tendensi apapun.

Maka dalam hal ini, dalam maqalah di atas dijelaskan bahwa salah satu ciri amal ikhlas yang diterima oleh Allah yaitu: Pertama, amal yg kurang diperhatikan bahkan diabaikan. Kedua, amal yg diremehkan.

Seperti beramal dalam kesepian dan kesunyian yg terlepas dari perhatian makhluk sehingga dlm beramal jujur apa adanya tanpa ada rekayasa, dibuat2 dan munculnya aneka lintasan. Pada saat melakukan amal dg kondisi yg demikian bisa mencapai kualitas keikhlasan karena hatinya jernih. Namun utk mencapai kualitas demikian diperlukan keistiqamahan meningkatkan kualitas amal.

Semoga kita terus bisa berlatih utk meningkatkan kualitas keikhlasan amal kita. Sebab Allah hanya menerima amal yg dilakukan secara ikhlas, sdgkan amal yg tdk ikhlas akan menjadi sampah dan tdk memberi manfaat apapun.

Terima Kasih Telah Menonton

Jangan Lupa Subscribe My Channel Youtube
Naufal Azhari

Friday, October 20, 2017

TINGKATAN MANUSIA DIDALAM BERTAUBAT

Yakk sudah lama nggak berjumpa kali ini saya akan mejelaskan tentang Taubat
Orang yang bertaubat itu dibagi menjadi 4 tingkat yaitu:

A.Tingkat Pertama

Orang durhaka yang bertaubat dan menetapi taubatnya sampai akhir hayatnya. Ia menyadari kesalahannya yang telah lalu dan tidak akan menceburkan dirinya kembali dalam dosa, kecuali beberapa kesalahan kecil, dimana biasanya seseorang tidak bisa terhindar daripadanya selama tidak berada dalam derajat kenabian.

Inilaha yang disebut istiqamah dalam bertaubat, pelakunya bercepat-cepat dalam menjalankan kebagusan, mengganti kejahatan dengan kebaikan. Taubat ini disebut taubat nasuhah dan nafsu yang telah tenang itu dinamakan nafsu mutmainnah, yang akan kembali ke Tuhannya dengan keadaan ridha dan diridhai.

B.Tingkat Kedua

Orang bertaubat yang menetapi istiqamah dalam pokok-pokok perbuatan taat dan menjauhi dosa-dosa yang bisa dikerjakannya tanpa suatu kesengajaan yang khusus. Bahkan setalah ia mengerjakannya, kemudian mencela nafsunya, menyesal dan bersedih. Selanjutnya ia memperbaharui tekadnya, berjaga-jaga setiap gejala yang akan membawanya ke arah dosa sebagaimana yang telah terjadi.

Jiwa yang sperti ini patut disebut nafsu lawwamah, yaitu jiwa yang selalu menegur diri. Sebab ia mencela pemiliknya atas perbuatannya yang mencebur diri ke perbuatan yang tercela, sekalipun tanpa tekad yang bulat.

Tingkat ini termasuk tingkat tinggi, walaupun tidak setinggi tingkat pertama. Sebab unsur kejelekan telah tercampur dalam format dan bentuk anak turun Adam, sedikit sekali yang bebas daripadanya. Hanya saja tujuan usahanya adalah agar kebaikannya bisa mengalahkan kejelekan. Dengan demikian timbangannya lebih berat dan daun timbangan yang berisi kebaikan itu lebih berat daripada yang berisi kejahatan.

C.Tingkat Ketiga

Orang yang bertaubat dan istiqamah dalam taubatnya dalam suatu waktu, tetapi kemudian ia dikalahkan oleh dorongan syahwat, dia tak berdaya menghadapi meluapnya syahwat. Hanya saja disamping itu, dia terus melaksanakan perbuatan taat dan meninggalkan sejumlah dosa. Dalam kondisinya yang demikian itu, ia terus berharap semoga Allah memberi kemampuan kepadanya mengatasi dosa tersebut dan mencukupkan sampai disitu. Begitulah harapannya ketika melaksanakan syahwat itu, sedang bila telah selesai ia menyesal dan berkata: “Alangkah bahagianya seandainya saya tidak mengerjakannya. Saya akan bertaubat daripadanya dan berusaha sekuat daya untuk bisa mengatasinya.” Akan tetapi dia dibuat tak berdaya lagi oleh nafsunya taubatpun dirusak berkali-kali, hari demi hari. Jiwa semacam ini disebut nafsu musawwalah(jiwa yang diperintah)

Apabila Allah memberikan anugerah kepadanya serta memperhitungkan taubatnya, maka ia termasuk golongan yang beruntung. Tapi jika ia dikalahkan oleh keburukan dan dikuasai oleh syahwatnya maka ia dikhawatirkan bahwa menurut ketentuan azali ia harus berakhir celaka. Seorang pelajar tidak mau bersungguh-sungguh dalam belajar misalnya, perilakunya itu menunjukkan menurut ketentuan azali dia orang bodoh, sedikit harapan baginya untuk menjadi ilmuwan. Sebaliknya jika terus menerus ia dimudahkan mencapai sebab-sebab untuk berhasil, maka itu sebagai indikasi bahwa ketentuan azalinya, ia akan menjadi orang alim.

Oleh sebab itu sangatlah dikhawatirkan datang penutup sebelum bertaubat. Setiap tarikan nafas sangat mungkin berpeluang sebagai penutup. Karena itu hendaknya diperhatikan nafas itu, jika tidak bisa jatuh dalam hal yang menghawatirkan, sehingga ia berada dalam kerugian tak berkesudahan yang tiada guna lagi disesali.

D.Tingkat Keempat

Orang yang bertaubat dan berjalan secara istiqamah beberapa waktu, lalu kembali mengerjakan suatu atau beberapa dosa, tanpa ada rencana bertaubat dan tidak pula menyesal atas perbuatannya, bahkan ia terus bergelimang dalam kemaksiatan bagaikan orang yang lalai melampiaskan hawa nafsunya.

Orang semacam ini, merupakan orang yang terus menerus melakukan maksiat dan jiwanya ini disebut ammarah bissu’ yaitu nafsu yang memerintah kepada kejahatan dan lari dari kebaikan. Dengan begitu dikhawatirkan akan mengakhiri hidupnya dengan jahat (su-ul khatimah). Urusannya terserah kehendak Allah, jika dikehendaki oleh-Nya mendapat akhir hayat yang baik dan mati dalam ketauhidan, maka ia boleh menantikan api penyucian dineraka sekian lama.

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG

Jangan lupa kunjungi channel youtube saya
naufal azhari