Sunday, December 3, 2017

MAKMUR BUKANLAH KEBAHAGIAAN


Allah Subhanau wa Ta’ala menciptakan alam semesta beserta isinya dengan bentuk yang sangat dinamis dan harmonis. Dengan semakin berkembangnya dunia ini dengan berbagai macam tekhnologi yang telah dicapai manusia, perubahan itu akan terus berjalan dan berkembang seiring dengan perubahan zaman dan waktu. Namun apakah dengan kemajuan yang dicapai dan dimiliki manusia akan menjadi lebih tentram, damai, dan bahagia? Tentu saja tidak karena begitu banyak kesedihan, nestapa, dan kesedihan lainnya yang banyak diderita manusia dewasa ini khususnya dibidang ekonomi dengan tidak meratanya status ekonomi manusia. Perkembangan manusia yang begitu cepat ini sayangnya tidak dibarengi dengan pertumbuhan rohani manusia, membuat manusia lamban laun lupa tujuan utama yang pernah digariskan Allah kepada manusia. Dengan keadaan keringnya hati dari siraman rohani ditambah dengan gencarnya perlawanan setan terhadap mausia membuat manusia sulit mencapai kebahagiaan dan ketentraman, bahkan penyakit kejiwaan seperti histeris, stress, dan lain sebagainya justru melanda orang-orang yang mempunyai pengetahuan lebih dari masyarakat biasa dan fenomena seperti itu digambarkan dalam salah satu ayat Aal-Qur’an:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS. Al-Baqarah: 275)

Jika ditanya mengapa belum ada usaha yang sungguh-sungguh dari pakar psikolog untuk meneliti dan menyingkap penyakit yang melanda manusia dewasa ini? Apakah mereka tidak pernah bertanya kepada dirinya sendiri mengapa penyakit itu lebih parah dari penyakit lainnya? Padahal dengan perkembangan tekhnologi yang telah dicapai manusia ternyata tidak berhasil membahagiakan manusia. Tekanan batin, gelisah, stress, sedih, duka, nestapa tersebar merata disetiap pelosok, tidak hanya di negara maju saja. Dan itu tidak disebabkan oleh faktor tertentu saja namun oleh banyak faktor lainnya. Yang jelas bahwa penyakit itu terjadi karena keringnya batin manusia dan telah lupa dengan jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kehidupan kita saat ini yang begitu keras dan sulit akhirnya akan menunjukkan bahwa hidup hanya semata-mata mencapai kepuasan, dan kepuasan itu tidak mungkin ada tanpa uang dan akhirnya harta adalah segala-galanya. Padahal kita menyadari bahwa semua kekayaan adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ketika seseorang mati dia tidak membawanyake liang lahat dan tinggallah harta itu tetap berada didunia. Di lain pihak dunia sendiri bukanlah akhir dari segala-galanya dan ia pun bukan tujuan utama, ia hanya sebagai kenikmatan terbatas dan akan berakhir nantinya.

Jika kita merenung sebentar saja terbuktilah sudah bahwa tujuan paling utama dari rayuan, godaan, dan hasutan setan hanya satu, yaitu bahwa setan hendak meyakinkan kita bahwa Tuhan tidak pernah ada, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu mendengar dan melihat semua perbuatan manusia. Banyaknya terjadi kekacauan dan kekejaman didunia ini karena manusia merasa Allah tidak melihat perbuatan manusia. Manusia tidak akan berani mencuri, berzina, membunuh, berbuat keji jika yakin dihatinya bahwa Allah melihatnya dan Allah akan membalas semua perbuatan keji manusia. Setan itu selalu berusaha pula mencari jalan dan celah kelemahan seseorang dengan menggambarkan dosa itu sebagai ilusi yang indah dan menawan serta penuh kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan dan memperingati kaum mukmin akan bahaya bujuk rayu setan dan keharusan seorang mukmin untuk melawannya dengan segala upaya, sedangkan bagi seorang pendosa jika ia masih tetap pada jalannya, Allah akan meninggalkannya dan jadilah ia penuh dan berlumuran dosa, bahkan menjadi lebih buruk dan hina.

TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG

Jangan Lupa Subscribe My Channel You Tube
Naufal Azhari

No comments:

Post a Comment